01 Maret 2017

Karena Kapitalisme atau kebutuhan hidup

Hari ini saya tidak tahu kenapa, hari terlalu cepat untuk saya lalui. Mungkin saja rotasi bumi ini memang semakin cepat. Bahkan hanya untuk sekedar duduk dan memperhatiakan layar monitor. Hanya satu pekerjaan yang dapat saya selesaikam, itupun pekerjaan karyawan yang tidak selesai, dan saya harus bertanggung jawab.

Rasanya sedikit lelah karema harus meneruskan pekerjaan yang bukan terkonsep dari apa yang akan dikerjakan. Sedangkan klien sudah marah besar akibat pekerjaan yang lama dan tidak kunjung seleaai. Mungkin ini sepenuhnya memang salah saya karena tidak bisa tegas dengan pengawai dan karyawan saya.



Mungkin ini pembelajaran terakhir saya. Saya harus benar-benar serius dan tegas menolak order bila memang tenaga atau pegawai kurang. Kelemahan saya karena kurang tegas harus benar-benar saya ubah.

Bagaikan diri iniemang harus mengerti bahwa saya bukan orang yang benar-benat bisa bertanggung jawab dengan apa yang saya pilih. Jujur saja banuak kata yang mungkin melintas di kepala ini dan saya tetap menulis dan mengetikan catatan ini tanpa melihat ejan dan saya biarkan mengalir dari kepala dan hati saya.

Menjadi tak ada memang snhat meyulitkan bahkan benar-benar keji. Mungkin karena pola pikir saya menurut tradisi sehingha sudah tertanam benar di kepala saya. Mungkin suatu saat saya harus bemar dan merubah semua ini. Memang daya tak bisa denhan kata-kata namun saya harus benar benar mengerti bagaimana kata oni mengalir deras dari dalam hati.

Mungkin memang tal banyal arti dan kubuarkan saja mengalir sekalian melayih ingatan dan tangan agar lebih terbiasa dengan ketikan di phone ini. Belum satu jam sya sudah berpikir jika saya ini memang gila. Bahkan sudah gila.

Hanya tubuh yang menjelang tua dan sedikit harapan yang tersisa didalam otak ini. Saya hatus berpikir keras untuk bisa memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Bahkan calon keluarga kecil saya nanti.

Masa depan memang tidak ada yang tahu kecuali Tuhan sendiri. Mungkin saya adlah orang yang penuh dosa dan tidak pantas untuk menerima kasih yang dia berikan. Kadang aku mencerca bahkan aku lebih sering membuatnya hina. Pikiran dan kondisi yang serba logis membuat saya benar-bemar gila.

Mungkin saya kan tertawa membaca kata-kata ini nantinya. Tapi tak apalah, mungkin saya akan ingat kenapa hal ini benar-benar terjadi dan akan mengubah pikiran yang sudah mulai penuh.

Sedikit demi sedikit saya rasakan sudah dapat mengloordinasikan pikieam dan apa yang akan sya tulis. Semoga kemajuan yang saya dpatlan akan lebih cepat. Saya sangat teetarik menjadi penulus. Tapi kelrmahan saya satu, dari kecil saya tak suka membaca.

Entah dari mana datangnya keinginunan ini. Untuk menuliskan apa yang saya inginkan. Sya injin dikenal lewat tulisan bukan dengan apa yang kau lihat. Saya ingin dikenal dengan semua karya saya bukan dengan wajah ini. Saya ingin menjadi apapun dan bukan orang tua yang menanti ajal.

Kapitalisme membuat otak saya terus berpikir soal uang. Apapun tentang uang. Saya merasa tempurung kepala ini mencekung dan menguap semua isi otak yang pernah saya alami.

Semogga ini awal yang baik untuk saya lebih pandai dan lancar dalam menyampaikan kata-kata kepada orang yang terucap. Antidorsal, adalah blig yang saya temukan dlam lalulintas otak saya.

Abtidorsal adalah antibodi yang memvuat saya semakin kuat. Antidorsal adalah obat pahit yang harus saya telan untuk penyakit yang hampir membunuh pikiran dan swmuah masalalu saya.


29 hari lagi waktu saya tercipta. Di ruang kerja tampungan orang baik ini saya bekerja. Saya habiskan waktu untuk bekerja, walau tak banyak cukuplah untuk membli segelas teh manis dan nasi bungkus. Terimalah pada orang baik yang mau menampungku. Orang baik yang terkadang menjadi acuh karena memang ini yang bisa saya kerjakan
 Orang baik ini lah yang menjadi masa depanku, bahkan yang belum pasti itu sya sudah berani menjaminya. Membayangkan memang akan semakin kapitalis dan di kejar dengan kebutuhan yang sebenarnya tidak terlalu penting.

Semoga sya tetap bisa menjadi diri saya yang sebenarnya. Menjadi diri saya 5 tahun yang lalu yang bebas berkarya tanpa kekang. Yang bebas kemana sja tanpa beban.

Terimakasih orang baik sudah mau menampung ku. Terimakasih orang baik karena sudah mau memberi pojokan sisa ruang untuk saya tinggali dan tekpat ku bekerja. Terumakasih untuk memberikan satu cup beras setap harinya. 

5 komentar: